TIPSDAYS.COM - Mendengar kata JIHAD mungkin rekan-rekan tipsdays.com berfikir bahwa ini adalah ajaran sesat yang ingin melakukan BOM BUNUH DIRI atau sebagainya, karena kita faham bagaiamana media memberitakan berbagai asumsi tentang kata JIHAD.

Namun dalam hal ini kami tidak akan membahas tentang ramainya media sosial dan media berita bagaimana memberitakan miringnya kata JIHAD, namun saya akan memberikan bermacam motivasi tentang bagaimana menggali ekonomi secara sah dalam aturan pemerintah dan agama, karena sebagaimana kita hidup selalu ada aturan yang berlaku untuk semua yang ada di dunia ini, dengan kata lain, tidak ada yang diciptakan oleh Allah Subhaanahu wata'ala yang tidak ada aturanya, meskipun Allah menciptakan MOTOR melalui tangan manusia, tetap saja ada aturanya dan cara penggunaannya secara sah dari dealer yang mengeluarkan tersebut.

Menegakan Jihad Ekonomi

Sahabat Tipsdays.com yang kami hormati, Berbisnis membangun ekonomi nampaknya masih menjadi salah satu kelemahan ummat Islam. Hal itu bisa timbul akibat kurang tepatnya dalam mempersiapkan bisnis.

Dampaknya dapat kita saksikan dari kondisi ummat saat ini, kita tidak punya apa-apa, perekonomianpun diajajh orang lain, dan nampaknya inilah salah satu strategi musuh-musuh Islam yaitu dengan memperlemahkan ekonomi ummat.

Sebabnya, tiada lain karena urusan ekonomi dianggap urusan duniawi, Padahal membangun ekonomi menjadi urusan kita juga selaku manusia yang memang diciptakan untun selalu berusaha, meskipun kita harus mengingat akhirat akan tetapi untuk urusan duniawi wajibnya kita juga menekuni segala hal.

Jikalau membangun peningkatan ekonomi dianggap urusan duniawi saja itu adalah niatan yang salah, oleh karena itu untuk urusan ekonomi duniawi wajibnya kita meniatkan dengan cara yang benar dan jika untuk urusan duniawi niat serta caranya benar maka bisnis dan usaha-usaha untuk menjadi kaya adalah jihad.

Motivasi ini adalah salah satu dari 8 Spiritual Dynamite for Financial Success yang akan bahas disini nantinya dalam beberapa episode mendatang, dan untuk mengawali cerita kita kali ini izinkan saya menulis tentang bagaimana Menegakan Jihad Ekonomi di Era Digital.

Seperti yang di riwayatkan Al Faqih dengan sanadnya dari Abi Hurairah, Rasulullah saw bersabda :

"Orang yang mencari harta halal demi terpeliharanya harga diri (tidak sampai meminta-minta) dan memberi nafkah keluarganya, serta berbuat baik kepada keluarganya, maka di hari kiamat berwajah bulan purnama ia dibangkitkan."

Yang harus kita pahami adalah bahwa jihad dalam islam tidak semata-mata berperang di jalan Allah. ini juga merupakan keadaan Khsusu dari Jihad. Konsep Al-Qur'An tentang jihad pada pengerahan upaya-upaya, dalam bentuk daya juang atau daya tangkal pada sesuatu hal, untuk membela Allah. Upaya ini bisa diartikan memukul mundur sebuah agresi. atau bisa bermakna menagkal tindakan jahat atau nafsu ankara murka dari seseorang.

Bahkan menyumbangkan harta bagi orang yang membutuhkannya merupakan bentuk Jihad, sebagai cara mempertahankan diri terhadap perasaan angkuh dan sifat pelit dan memperkaya diri sendiri.

Jihad di bagi menjadi dua bagian, Jihad dengan senjata dan jihad dengan damai. Jihad dengan senjata bersifat sementara untuk melawan agresi, setelah selesai agresi benhenti maka jihad senjatapun selesai. Jihad dengan senjata hanya berlangsung atau berlaku ketika keadaan sangat gawat/genting dan musuh datang dari luar.

Untuk lebih jelasnya saya sampaikan bahwa jihad itu mangandung dua muatan makna, bahasa dan syariat. Makna Jihad secara bahasa adalah kesulitan (masyaqah) (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari dan Naylul Awthar), atau juga mempunyai arti kesungguhan (juhud), kemampuan menanggung beban (thaqah) dan kesulitan (masyaqah) dalam (Kamus Al Muhath).

Jihad dalam aspek bahasa juga bermakna mencurahkan segala usaha atau tenaga untuk memperoleh tujuan tertentu )Al Jihad Waqital Fissiyasah Asy Syar'iyah).

Sementara pengertian jihad dalam konteks syar'i adalah mengerahkan segenap potensi untuk berperang di jalan Allah, baik secara langsung atau berperang secara tidak langsung, misalnya melalui bantuan materi, sumbangsih pendapat, pnyediaan logistik, dan lain-lain (Raddul Mukthar III).

Dalam pengertian Syar'i, jihad juga bermakna menggerakan segenap kesungguhan dalam memerangi orang kafir (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari). Walhasil secara bahasa jihad mencakup makna yang cukup luas, meliputi jihad melawan hawa nafsu, jihad ekonomi, jihad pendidikan, jihad politik, jihad pemikiran, jihad mencari ilmu dan lain-lain.

Amasy dari Abu Muharriq, menceritakan bahwa ada seseorang pemuda lewat, lalu Abu Bakar dan Umar berkata, "Untung sekali jika ketangkasan dan kecakapan pemuda itu dimanfaatkan untuk jihad fi sabilillah, pasti besar sekali pahalanya."

Mendengar perkataan tersebut, Rasulullah yang mulia bersabda, "Jika ia bekerja membantu orang tuanya yang sudah tua, berati ia telah jihad fi sabilillah, dan ia berusaha memenuhi nafkah anak istrinya, berarti ia telah jihad fi sabilillah, dan jika ia bekerja demi keperluan hidupnya sendiri, berarti ia telah jihad fisabilillah (agar tidak sampai meminta-minta), dan jika ia bekerja sekedar popularitas (mencari nama) dan untuk kebanggan dirinya berarti ia telah masuk jalan (perangkap) syetan."

Umar bin Khatab pernah menegaskan, :Hai orang-orang fakir miskin, angkatlah kepalamu, bekerja keraslah, karena banyak cara usaha itu, jadilah penanggung diri sendiri (jangan memberatkan orang)."